Senin, 05 September 2011

Anak Baru



      Rajasa Ikmal Tobing (Ikmal) adalah murid kelas XII di SMA Negeri 23.
      Suatu hari disaat bel belum berbunyi, Bu Mulan Jameela (Bu Mulan) wali kelas di kelas Ikmal masuk. Namun, ada yang berbeda ketika Bu Mulan masuk. Dibelakangnya ada seseorang perempuan berparas cantik, putih, dengan rambutnya yang pendek dan berwarna hitam.

Bu Mulan: “Anak-anak, perkenalkan ini ada teman baru kalian namanya Cameria Happy Pramita, panggil aja Mita”
Mita: “Hai! Salam kenal”
Ikmal: “Wes cantik juga nih! Boleh dong nomer hapenya”
Mita melihat Ikmal dengan tatapan jengkel dan kesal.
Ikmal: “Wess gue dipelototin men! Neng, duduk sini aja neng” (Ikmal menunjuk sebelah bangkunya yang kosong itu)
Bu Mulan: “Yasudah Mita kamu duduk sama Ikmal aja sana! Kayaknya kalian akan mudah akrab”
Mita pun tidak bisa membantah Bu Mulan, dan ia hanya cemberut.

      Dimeja...

Ikmal: “Mitaa!” (dengan muka sok imut)
Mita: “Apasih lo!”
Ikmal: “Haha muka lo imut banget sih kalo lagi marah” (goda Ikmal)
Mita: “Whatever you say!”
Ikmal: “Wes jago bahasa inggris juga lo haha”

      Hari-hari mereka berduapun dilewati dengan penuh pertengkaran kecil, maupun pertengkaran besar.    Sekarang mereka berdua sedang dihukum membersihkan toilet.

Ikmal: “Panas banget. Lo gak kepanasan?”
Mita hanya melamun.
Ikmal: “Eh hoi! Mita dengerin gak sih!?”
Mita: “Eh.. Oh.. Iya denger! Jangan ngeluh aja dong! Katanya cowok, tapi kok ngeluh mulu?!”
Ikmal: “Emangnya gue setan, gak bisa kepanasan? Tapi yang namanya panas, ya panas!”
Mita: “Iya juga sih”
Ikmal: “Ayo cepet kita selesein terus kita pulang”

      Begitulah sehari-hari mereka.

“Menurut gue, anak cewek yang sering berantem sama temen cowoknya itu artinya hubungan mereka akrab. Cerita-cerita konyol dan lucu, terus ketawa, dan memperdebatkannya berdua” batin Ikmal.

***

      Hari ini ada ulangan matematika. Ikmal dikenal pintar dalam hal matematika, namun dia pelit untuk membagi jawabannya pada teman-teman.

Ikmal: “Mit, ntar mau nyontek gak?”
Mita: “Nggak ah, gue gak yakin sama lo”
Ikmal: “Yaelah Mit, harusnya lo beruntung dong udah gua tawarin nyontek”
Mita: “Nggak ah, gua mau ngerjain ulangannya pake hasil otak gue sendiri”
Ikmal: “Aah gausah sok bijak. Mau gak?”
Mita: “Gamau”
Ikmal: “Yaudah kalo gamau. Allhamdulillah ntar gua bakalan dapet nilai paling tinggi” (memanas-manasi Mita)
Mita: “Hmm.. Yaudah gue mau deh hehe”
Ikmal: “Tuhkan mau juga akhirnya”
“Tumben Ikmal baek, tapi dia beneran ga yah. Jangan-jangan cuma ngerjain gue” batin Mita.

      Bel pun berbunyi pertanda masuk. Ulangan pun segera dimulai. Ikmal memberitahu Mita tanpa diketahui guru.
      Bel pulang berbunyi. Hasil ulangan Mita dan Ikmalpun sama, yaitu 100.

Mita: “Mal, thanks ya udah ngasihtau gue”
Ikmal: “Iya, tapi ada satu syarat”
Mita: “Apaan?”
Ikmal: “Lo merem ya”
Mita: “Iyadeh”

      Ikmalpun menaruh 3 cacing dipundak Mita.

Ikmal: “Sekarang lo boleh melek”
Mita: “Aaaah!! Caciiiing! Mal, buang cacingnya! Cepet” (Mita meloncat-loncat)
Ikmal: “Hehe iya gue buang deh” (Ikmal membuang cacingnya)
Mita: “Jahat lo Mal!”
Ikmal: “Maaf Mit, maaf!”
Mita langsung pergi.

***

      Keesokan harinya, Mita memalingkan tubuhnya dari Ikmal, memunggungi Ikmal, dan lewat dengan menghindar sejauh-jauhnya dari Ikmal.
      Saat istirahat...

Ikmal: “Mita!”
Mita hanya diam.
Ikmal: “Mita!”
Mita tak menghiraukan Ikmal.
Ikmal: “Mitaaaa! Denger gak sih!?”
Mita: “Denger” (dengan muka datar)
Ikmal: “Akhirnya dijawab juga”
Mita: “Mau apa?”
Ikmal: “Mau minta maaf”
Mita: “Gamau maafin”
Ikmal: “Ayolah Mit, maafin gue. Apa yang lo mau gue turutin deh”
Mita: “Bener?”
Ikmal: “Bener”
Mita: “Serius?”
Ikmal: “Lima rius!”
Mita: “Hmm oke oke. Lo gue maafin, tapi ada satu syarat”
Ikmal: “Apa?”
Mita: “Ayo ikut gue!” (menarik Ikmal)

     Ditaman..

Mita: “Nah, sekarang lo merem!”
Ikmal: “Mau ngapain? Gue kan gak takut binatang apa-apa”
Mita: “Udah deh, merem aja! Mulut lo mangap ya”
Ikmal: “Kok pake mangap segala?”
Mita: “Udah, mau gue maafin gak?”
Ikmal: “Iyadeh iya”

      Ketika mata Ikmal terpejam, dan mulutnya mangap, Mita memasukkan buah nangka kemulut Ikmal. Karena Ikmal takut dengan buah nangka, Ikmal meludahkannya dan kesal.
Mita: “Gimana, enak gak buah nangkanya?”
Ikmal: “Puas Mit ngerjain gue?”
Mita: “Beh, puas banget gue haha”
Ikmal: “Gue dimaafin gak?”
Mita: “Iya”

      Lalu karena terbawa suasana, mereka ngobrol.

Ikmal: “Mit, asal lo tau aja ya, gue kan punya indra keenam”
Mita: “Boong ah, mana buktinya?”
Ikmal: “Gue tau, lo suka kan sama gue?” (Ikmal menebak dengan asal)
Mita: “Nggak tuh!”
Ikmal: “Udah, jangan bohong. Gue udah tau dari dulu Mit”
Mita: “Iya gue ngaku gue suka sama lo”
Ikmal: “Ha? Bener Mit?”
Mita: “Iya! Lo kan udah tau, jangan sok kaget gitu deh”
Ikmal: “Nggak Mit, sebenernya gue gak punya indra keenam. Gue juga gaktau kalo lo beneran suka sama gue. Gue cuma boong Mit! Hehe”
Mita: “Jadi lo bohong?” (mukanya terlihat kesal)
Ikmal: “Ya gitudeh hehe”
Mita: “Lo jahat!” (berdiri untuk pergi)
Ikmal: (menarik tangan Mita) “Jangan pergi Mit, tenang! Walaupun gue bohong, gue juga sayang sama lo kok”
Mita: “Gue ga percaya!”
Ikmal: “Gue beneran Mit, pliss mau ya jadi pacar gue!”
Mita: “Nggak, gue gak mau!”
Ikmal: “Yah gak mau Mit?” (mukanya langsung sedih)
Mita: “Maksud gue, gue gak mau nolak! Hehe”

~SELESAI~

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar