Minggu, 04 September 2011

Leukimia yang Mempertemukan Kami

     

      Perempuan cantik itu bernama Dara Rizki Ruhiana (Dara). Ia pintar, ramah, dan baik. Ia juga mempunyai pacar yang amat sayang padanya yaitu Rio Aries Kusnanto (Rio).
Namun keberuntungan Dara terasa direnggut setelah ia divonis sakit oleh dokter.

Dokter: “Maaf bu, anak anda menderita penyakit yang sangat parah”
Mama Dara: “Penyakit apa dok? Apa bisa disembuhkan?”
Dokter: “Ia mengidap penyakit Leukimia Limfoblastik Akut (LLA). Kepastian kesembuhannya sangat kecil”
Mama Dara: “Lalu apa yang harus saya lakukan untuk menyembuhkan anak saya dok?”
Dokter: “Ibu harus membawa anak ibu berobat ke Singapura. Kami akan membantu dalam mengurus semua keperluannya”
Mama Dara: “Baik dok, kapan anak saya akan dipindahkan?”
Dokter: “Kalau bisa secepatnya bu. Lebih baik besok”

      Mama Dara hanya hanya bisa menangis. Ia bingung, ia harus berkata apa pada Dara. Mama Dara hanya bisa memandangi anaknya yang sedang tidur diranjang rumah sakit. Untung saja Mama Dara ditemani oleh Wahyu Sudiro (Wahyu) sahabatnya Dara.
Wahyu sebenarnya mencintai Dara sepenuh hati. Bahkan rasa sayang Wahyu lebih besar dari rasa sayang Rio pada Dara.
      Dara terbangun...

Dara: “Mah, Dara sakit apa?”
Mama Dara: “Nggak sayang, kamu cuma demam biasa aja”
Dara: “Bohong. Kok mata Mama kayak abis nangis gitu?”
Mama Dara: “Nggak nak, Mama gak nangis. Ini cuma kelilipan aja”
Dara: “Yu, gue kenapa?”
Wahyu: “Nggak Dar, lo cuma demam aja” (menenangkan Dara)
Dara: “Gue gak percaya kalo gue cuma demam! Pasti gue sakit parah kan? Terus hidup gue cuma tinggal sebentar lagi?”
Wahyu: “Heh lo gak boleh ngomong gitu dong!”
Dara: “Makanya kasihtau gue dong! Gue sakit apa”
Mama Dara: “Kamu sakit Leukimia” (menahan air matanya)
Dara: “Hah? Leukimia Mah?” (air matanya menetes)
Wahyu: “Iya Dar, lo sakit Leukimia Akut. Tapi lo jangan takut. Gue sama nyokap lo akan dukung lo” (Ayahnya Dara udah meninggal)
Dara: “Nggak! Pasti hidup gue tinggal bentar lagi kan?” (mengamuk dan memberontak)

      Mamanya Dara pun hanya bisa menangis. Wahyu langsung memanggil dokter karena Dara histeris.
Ketika Mama Dara pulang sebentar, Tata Shinta (Tata) kerabatnya pun datang. Ia datang membawa yogurt dan beberapa buah-buahan.

Tata: “Hai Yu! Hai Dar! Gimana? Udah baikan?”
Dara: “Kalo gue pergi tiba-tiba, lo jangan nangis ya!”
Tata: “Hah? Apasih lo Dar? Gangerti deh gue”
Wahyu: “Dara, lo jangan ngomong gitu dong! Yang nentuin umur lo itu Tuhan, bukan lo, dokter, atau penyakit”
Tata: “Yu, emang Dara sakit apa?”
Dara: “Gue sakit Leukimia Akut”
Tata: “Hah? Yaampun.. Sabar ya Dar. Udah deh mendingan lo tidur aja dulu”

      Dara pun tidur. Dia sudah tau bahwa besok ia akan ke Singapura, namun sampai saat ini Rio kekasihnya belum menjenguk Dara, walau sebenarnya Rio sudah dikasihtau bahwa Dara menderita Leukimia.

Tata: “Yu, si Rio udah jenguk Dara?”
Wahyu: “Oh iya.. Dia belom kesini. Padahal dia udah tau kalo si Dara sakit Leukimia”
Tata: “Coba deh lo sms si Rio”
Wahyu: “Iya”

      Wahyu pun segera menyuruh Rio datang. Rio akan datang esok pagi.

***

      Keesokan harinya ketika Dara siap pergi ke Singapura, Rio datang. Tapi Rio datang bukan untuk menjenguk, melainkan untuk memutuskan hubungannya dengan Dara. Dara hanya bisa terkulai lemah. Badannya kurus. Terkadang airmatanya jatuh. Wahyu tidak hanya diam. Ia meminta penjelasan pada Rio.

Wahyu: “Lo ga bisa seenaknya kayak gitu dong!”
Rio: “Suka-suka gue dong! Gue takut kalo nanti keturunan gue juga kayak gitu!”
Wahyu: (menampar Rio) “Jangan ngomong seenak jidat lo aja ye! Pesimis banget sih lo! Pecundang!”
Tata: “Banci lo! Gak gentleman!”

      Perkelahian antara Wahyu dan Rio hampir terjadi, untungnya sudah dilerai oleh Mama Dara dan Tata. Walaupun Dara memprihatinkan dan sedih, Rio tetap tidak berubah pikiran.

***

      1 tahun berlalu. Dara menjalani pengobatan ditemani Mamanya, dan Wahyu. Tata tak bisa ikut karena ia harus kuliah. Hampir 24 jam sehari Mama Dara dan Wahyu menunggu dan menjaga Dara. Rambut Dara mulai rontok, berat badannya hanya 28 kg, dan kulitnya hitam karena pengaruh obat.

***

      2 tahun sudah Dara dirawat. Ia sekarang sudah bisa berdiri, dan tertawa lagi. Dokter menyatakan Dara sudah sembuh, tinggal menunggu sehatnya saja. Mama Dara dan Wahyu pun tak henti-hentinya bersujud syukur.

***

      Hari ini Dara pulang kerumah. Selanjutnya ia hanya disuruh melakukan terapi, dan pemulihan. Setiap hari Wahyu tak henti-hentinya mengajari Dara berjalan, dan Dara sudah bisa berjalan meski terkadang jatuh.
      Mendengar Dara sembuh dari penyakitnya, Rio kembali mendekati Dara, namun Dara menolaknya mentah-mentah.

Dara: “Dulu pas gue sekarat, lo kemana? Dulu pas gue hampir mati, lo dimana? Disamping gue cuma ada Nyokap gue dan Wahyu aja”
Rio: “Gue minta maaf! Gue khilaf. Tolong terima gue lagi Dar!”
Dara: “Nggak, gue udah muak sama lo! Sekarang lo pergi! Pergi!”
Rio: “Kenapa sih lo gak mau nerima gue lagi? Kenapa? Karena lo sayang kan sama Wahyu?!”
Wahyu: “Heh, lo gausah bentak Dara gitu deh! Kalo berani, bentak gue dulu!”
Rio terdiam..
Dara: “Iya! Gue ga mau sama lo lagi karena gue sayang sama Wahyu! Dia gentle, gak kayak lo Banci!”
Rio: “Tuhkan! Gue tau! Wahyu sengaja ngerawat lo karena dia pengen dapet simpatik dari lo!”
Wahyu: “Mulut lo dijaga ya! Gue ngerawat Dara karena dia itu sahabat gue!”
Rio: “Hah! Ekting lo basi! Muna lo! Muna!”
Dara: “Stop! Terserah apapun itu intinya gue sayang banget sama lo Yu!”
Wahyu: “Lo serius?”
Dara: “Iya gue serius! Tapi kalo lo cuma nganggep gue sebagai sahabat, gue terima kok”
Rio pun pergi.
Wahyu: “Eh, ehmm.. Nggak juga kok! Dari dulu gue juga suka sama lo. Tapi gue ngerawat lo kemaren itu cuma karena lo sahabat gue kok. Gaada maksud laen”
Dara: “Lucu banget sih nih pacar gue haha! Siapa juga yang mau percaya omongan Rio”
Wahyu: “Hehe”

      Merekapun jadian dan saling menyayangi dan menjaga satu sama lain.

~SELESAI~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar