Kamis, 10 November 2011

Balapan Cinta

   

     Kantin sekolah Nusa Raya penuh sesak saat jam istirahat. Di meja dekat sebuah pohon, seorang cewek sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Dia adalah Cameria Happy Pramita (Mita), anak XII IPS C. Dia adalah Cewek paling cantik, tajir, jago basket dan pintar di sekolahnya. Namun sayang, Mita adalah cewek tomboy, dia senang balapan, dan kadang membuat onar sekolah. Hampir setiap hari Mita bolak balik ruang BP. Tidak heran kalau dia terkenal di sekolahnya. Mita mempunyai tujuh orang sahabat. Mereka adalah Puri, Tharas, Dara, Tata, Rio, Icez dan Mulan. Mereka sudah bersahabat sejak SD. Saat jam istirahat, lima dari ketujuh sahabat Mita menghampiri nya.

Puri: “Woy Mit, udah selesai belum desain buat kaos kita?”
Mita: “Lo bikin kaget gue aja. Hmm.. Udah selesai nih, Lihat dulu aja.”
Icez: “Coba sini gue liat.”
Puri: “Ah elu Ces, nyerobot antrean lo.”
Mita: “Dari dulu sampai sekarang, lo berdua doyan ribut mulu. Oya, Si Rio ama Tharas mana? Tumben tuh anak nggak ke kantin.”
Dara: “Biasa Mit, tuh anak berdua lagi ngecengin cewek di perpus.”
Mita: “Pantes aja tiap istirahat pasti pada lari ke perpus.”

      Krrrriiiiiiiiiinnnnnnnngggggggg………………. Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Para siswa menuju kelasnya masing-masing, begitupun dengan Mita dan teman-temannya.
      Saat Mita berdiri dan membalikkan badannya, tanpa sengaja seorang cowok cakep menumpahkan minuman ke baju Mita. Cowok tersebut adalah Rajasa Ikmal Tobing (Ikmal), teman sekelas Mita dan juga musuh bebuyutan nya dari SMP dalam hal apa saja, terutama di arena balap. Mita geram bukan main dan langsung marah-marah kepada Ikmal.

Mita: “Anjrit lo Mal. Lo sengaja numpahin nih minuman ke baju gue kan. Mau bales dendam lo?”
Ikmal: “Sorry deh gue nggak sengaja. Siapa juga yang mau bales dendam ama lo, nggak penting banget gitu”
Mita: “Laga lo kayak kambing! Males gue ngomong ama lo! Dasar lo playboy cap kapak.”
Ikmal: “Lo kira merk minyak angin cap kapak. Dasar lo cewek gila, pantas lo jadi jomblo mulu. Cowok- cowok mana ada yang mau sama lo”
Mita: “Lo ngatain gue, anjrit lo Mal” (bersiap menonjok Ikmal, namun ditahan oleh Mulan)
Mulan: “Udah Mit, jangan ribut di sini. Mending kita balik ke kelas. Sekarang udah bel, ntar kita di strap kalau telat masuk”
Tata: “Mulan bener Mit, sekarang kita masuk aja.”
Mita: “Ya udah deh”

      Sabtu malam, ketujuh sahabat Mita sedang menunggunya di jalanan tempat mereka biasa balapan. Mereka bersama tiga orang cowok, yaitu anak-anak RaCross. Salah satu nya adalah Ikmal. Malam ini Ikmal akan balapan melawan Mita. Lama mereka menunggu, Mita tak kunjung datang. Beberapa kali Rio menelpon Mita, namun tak ada jawaban satupun. Tak seperti biasanya, Ikmal dengan tenang menunggu.

Ijal: “Lama banget sih temen lo itu. Takut ya hadapin kita-kita.”
Icez: “Dalam kamus anak Blackheart nggak ada kata takut, apalagi buat Mita”
Ijal: “Ngaku aja kalau kalian takut. Buktinya Mita nggak muncul-muncul juga kan”
Ikmal: “Udah jangan pada ribut, kita tunggu sebentar lagi.”

      Dari kejauhan terlihat sebuah motor sedang melaju kencang ke tempat itu. Rio mengenali kalau pengendara motor itu adalah Mita. Rio melambaikan tangannya, memberi tanda kepada Mita. Mita pun segera menghampiri mereka.

Rio: “Akhirnya Mimit datang. Buat bos Mimit mah nggak ada kata takut kali!”
Mita: “Sorry ya gue telat. Tadi gue ada urusan bentar”
Icez: “Nggak apa-apa kok Mit. Sekarang kita mulai aja balapannya, anak-anak RaCross udah nggak sabar.”
Mita: “Ok.”

      Mita langsung mengambil tempat untuk balapan, kemudian di susul oleh Ikmal.
“Siap semua. Satu.. Dua.. Tiga.. Go…!!” Seru Puri sambil menjatuhkan bendera tanda balapan di mulai.
      Balapan dimulai. Ikmal berada di urutan depan Mita. Namun Mita tidak tinggal diam. Dia mempercepat laju motornya yang kemudian mendahului Ikmal dan berada di posisi depan. Kedua pembalap sangat hebat dan piawai dalam melewati rintangan di jalanan. Garis finish hampir sampai, Ikmal berusaha mendahului Mita namun tidak bisa. Tak berapa lama, Mita sampai di garis finish disusul Ikmal yang berada di belakangnya.     Teman-temannya bersorak atas kemenangan Mita. Untuk kesekian kalinya Mita menang balapan. Ikmal kemudian menghampiri Mita dan teman-temannya.

Ikmal: “Selamat ya Mit”
Mita: “Yups. Thanks ya Mal”
Ikmal: “Sama-sama Mit. Ntar kapan-kapan kita bisa balapan lagi kan.”
Mita: “So pasti donk.”
Ikmal: “Kita-kita cabut dulu ya. Sekali lagi selamat buat kalian semua.”

      Ikmal dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang hanya tinggal Mita dan teman-temannya ingin merayakan kemenangan Mita.

***

      Pagi itu Mita terlambat datang ke sekolah. Dia tergesa-gesa menyusuri koridor sekolahnya dengan membawa banyak buku. Tanpa sengaja dia menabrak Ikmal yang ternyata juga datang terlambat.

Mita: “Sorry. Gue nggak sengaja.” (sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan)
Ikmal: “Nggak apa-apa kok Mit, santai aja” (membantu Mita membereskan bukunya)
Mita: “Lo ngapain di sini Mal? Lo telat juga?”
Ikmal: “Iya nih. Buruan yuk masuk, kayaknya Pak Dhani udah masuk kelas tadi.”
Mita: “Yuk!”
Ikmal: “Lo kenapa telat? Tadi malem balapan lagi?”
Mita: “Iya... Lo sendiri?”
Ikmal: “Tadi malam gue jalan ama temen-temen. Ada acara gitu.”
Mita: “Oh..... Oya, tumben Lo baek ma gue. Biasanya lo anti banget kayaknya ama gue”
Ikmal: “Nggak kebalik non? Biasanya elu yang suka marah-marah ama gue”
Mita: “Hehehe”

      Saking asiknya berbincang, ternyata mereka telah sampai di depan kelas mereka. Saat akan memasuki kelas, mereka disambut oleh teriakan heboh dari teman- temannya dan kemudian omelan Pak Dhani.

Ijal: “Suiiitttt…. Suiiiiitttt… Anjing ma kucing barengan nih, ada angin apa nih.”
Tharas: “Angin puting beliung kali.”
Pak Dhani: “Sudah diam anak- anak. Kalian berdua ini, sudah hampir setengah jam kalian terlambat.”
Ikmal: “Sa…. ya..” (Belum sempat Ikmal menjelaskan, pak Dhani memotong kata-kata Ikmal)
Pak Dhani: “Sudah.. sudah. Bapak tidak mau mendengar penjelasan kalian, sekarang kalin berdua berdiri di depan kelas. Kaki diangkat satu dan tangan di telinga”
Mita: “Tapi pak. Kayak anak SD aja”
Pak Dhani: “Nggak ada tapi- tapi’an. Cepat laksanakan!”
Mita dan Ikmal: “Baik pak”

      Rio dan Dara cengengesan dan mengolok-olok Mita. Mita menatap tajam ke arah mereka berdua. Tapi, Rio dan Dara tidak peduli dengan tatapan Mita. Dalam hati Mita berkata “Awas kalian berdua”.

Pak Dhani: “Ayo anak-anak kita lanjutkan pelajaran. Tidak usah kalian hiraukan dua makhluk di depan ini.”

      Sore itu Ikmal dan teman-temannya sedang hang out bareng. Seperti biasa, mereka selalu membicarakan masalah cewek atau balapan dan hal yang kurang penting lainnya. Namun, sore itu sepertinya pembicaraan mereka serius.

Ijal: “Mal, kok loe putus sih ma Beby Niken? Padahal kan Beby cewek yang cantik gitu”
Ikmal: “Gue ngerasa nggak cocok aja sama dia. Apa yang gue lakukan selalu salah, nggak ada yang bener di mata dia.”
Ijal: “Trus Alexa gimana Mal?”
Ikmal: “Itu udah gue putusin dari dulu.”
Ijal: “Jadi sekarang cewek lo siapa dong?”
Ikmal: “Nggak ada.”
Ijal: “Sumpeh lo?”
Ikmal: “Yups. Semua cewek-cewek gue, udah gue putusin. Sekarang gue pengen tobat dan gue mau serius pacaran ama satu orang.”
Ijal: “Wow. Emang loe mau ngegebet siapa sih? Kayaknya istimewa banget, cerita ke kita dong”
Ikmal: “Tapi kalian jangan kaget ya. Gue harap lo pada dukung gue.”
Ijal: “Iya bawel. Buruan bilang, siapa cewek yang beruntung itu dan bisa buat lo mau berubah.”
Ikmal: “Mita”
Ijal: “Hah..??? Gue ngga salah denger nih. Coba lo bilang sekali lagi.”
Ikmal: “MITA.. M.I.T.A. MITA..”
Ijal: “What???????”
Ikmal: “So, kalian mau kan bantu gue.”

      Ijal dan teman-temannya terkejut bukan main. Mereka melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Ikmal. Mereka mengira mungkin itu hanya ucapan keisengan Ikmal saja. Namun Ikmal menganggukkan kepalanya, tanda dia serius dengan ucapannya. Mau tidak mau Ijal dan teman-temannya membantu Ikmal.
Hari demi hari berlalu. Ikmal mulai sering mendekati Mita dan tidak pernah lagi jutek kepadanya. Mita bingung dengan sikap Ikmal. Bukan hanya Mita yang bingung dengan sikap Ikmal, tapi juga semua murid yang ada di kelasnya. Mita seolah tak begitu peduli, dipikirannya mungkin Ikmal sedang kesambet.
     Dua bulan berlalu, Ikmal tetap berusaha mendekati Mita. Pada suatu hari, Tharas dan Icez menemui Ijal untuk bertanya tentang sikap Ikmal kepada Mita.

Icez: “Lo tau nggak Jal, si Ikmal kenapa? Udah dua buan terakhir dia deketin Mimit mulu.”
Ijal: “Masa kalian nggak nyadar sih, kalau si Ikmal itu suka ma Mita”
Icez: “Masa sih Jal?”
Tharas: “Lo nggak bohong kan Jal?”
Ijal: “Suer deh. Demi Mita, Ikmal berubah.”
Tharas: “Kayaknya Mita juga suka deh sama Ikmal, walaupun sikapnya masih cuek gitu.”
Ijal: “Kok lo bisa berpikiran kayak gitu sih, Tar?”
Tharas: “Dulu Mita pernah cerita sama gue, dia itu suka sama gue, dia itu suka sama seorang cowok. Tapi Mita juga benci sama cowok itu, karena dia sering buat Mita marah atau kesal. Siapa lagi coba cowok itu, kalau bukan Ikmal. Cuma dia kan satu-satunya cowok yang sering buat Mita marah setengah mati.”
Ijal: “Bener juga ya Tar.”
Icez: “Hmm.. Lo pada ada ide nggak biar bisa bikin mereka jadian?”
Tharas: “Bikin Dinner aja di tempat biasa kita balapan. Kan tempatnya bagus tuh, gimana?”
Ijal: “Ide bagus tuh. Lo kasih tahu anak-anak yang laen, gue kasih tahu si Ikmal. Ntar sabtu ini kita siapin semuanya. Usahain Mita jangan sampai tahu dulu.”
Tharas dan Icez: “Sipp!”

      Disekolah...

Ikmal: “Mit, sabtu ada waktu nggak? Gue mau ajak lo jalan boleh?”
Mita: “Mau kemana emang?”
Ikmal: “Ntar lo tahu sendiri lah. Mau ya.”
Mita: “Ya udah deh, gue mau. Tapi lo jangan macem-macem. Awas lo”
Ikmal: “Iya bos!”

      Ternyata dari balik semak-semak, anak-anak Blackheart dan RaCross sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Ikmal memberi tanda kalau Mita mau di ajak pergi. Mereka pun senang dan bersiap menyusun rencana selanjutnya.

***

      Hari yang dinanti tiba, segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh mereka. Malam itu cuaca sangat bersahabat. Tharas dan yang lainnya bersembunyi sambil menunggu kedatangan Ikmal dan Mita. Tak berapa lama, Ikmal dan Mita sampai di tempat tujuan. Ikmal keluar dari mobil sambil menuntun Mita yang matanya tertutup oleh kain.

Ikmal: “Sekarang, lo bisa buka mata lo”
Mita: “Wow. Ini indah banget. Tempat ini kayaknya gue pernah lihat. Tapi dimana ya, gue lupa.”
Ikmal: “Lo bukan hanya pernah lihat, tapi lo sering kemari buat balapan”
Mita: “Maksud loe?”
Ikmal: “Ini tempat kita sering balapan. Tapi untuk malam, tempat ini khusus buat elu, Mit (kemudian menggenggam tangan Mita. Mita jadi bingung) Gue nggak akan basa-basi lagi. Loe mau nggak jadi cewek gue Mit? Gue udah lama suka sama lo, tapi gue aja yang nggak sadar akan hal itu. So, gue nggak mau kehilangan elu, gue sayang banget sama lo. I love you, Mita”

      Tanpa diduga-duga, Tharas cs dan Ijal cs keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka pun menyoraki Mita untuk menerima cinta Ikmal. Mita terkejut bukan main saat melihat mereka.

Mita: “Lo pada ngapain di sini?”
Dara: “Nggak usah basa- basi Mit terima aja cintanya si Ikmal. Lo juga suka kan sama dia”
Anak-anak: “Terima.. Terima.. Terima.. Terima.”
Mita: “Hmmm......Ok deh Mal, gue mau jadi cewek lo”
Ikmal: “Makasih ya Mit!” (sambil memeluk Mita)
Anak-anak: “Hoorreeeee..”
Dara: “Ternyata dari sebuah balapan dan permusuhan, bisa buat seseorang saling suka ya.”
Rio: “Betul itu”
Ijal: “Untuk mengenang malam ini, kita namakan tempat ini ‘Racing Love’. Karena di tempat ini kita biasa balapan dan salah satu dari kita semua menemukan cinta”
Anak-anak: “Setujuuu......”
Ikmal: “Thank’s ya semua udah banyak bantu”
Ijal dan Tharas: “Sama-sama sob!”

      Mereka pun merayakan malam itu dengan penuh gembira. Tak ada lagi permusuhan diantara mereka seperti dulu. Kini mereka menjadi sahabat. Ikmal dan Mita menjadi pasangan paling bahagia malam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar