Minggu, 13 November 2011

Hari-hari Terakhir Dara

 
     




     Di pagi yang cerah, seperti biasa Dara merapikan buku- bukunya untuk sekolah. “La..la...la...la....” Suara merdu nya mengiringi segala kegiatannya di pagi itu. Ketika semua sudah selesai, dan segalanya telah di persiapkan, Dara segera memakai sepatu lorengnya yang di taruh di bawah lemari.
“Ih......susah banget sih...! Akhirnya kakiku masuk juga.” keluhnya. Memang ukuran sepatu Dara agak kecil, karena sudah dari dulu Dara belum membeli lagi, itulah sifatnya. Dara adalah seorang anak yang hemat, tidak suka berneko-neko, rapi, dan rajin. Makanya, orang tua Dara sangat bangga dengan anak semata wayangnya tersebut.
Setelah sepatu di kakinya terpakai rapi, saatnya berangkat ke sekolahnya. Dara bersekolah di SMP Girls. Orang tuanya memang sangat memperhatikan Dara, hingga akhirnya Dara dimasukkan ke dalam SMP khusus para remaja putri.
“Saatnya going to school dech... Hmmm... mudah- mudahan sampai di sekolah gak ada masalah kayak kemarin lagi ah... jadi sebel...!” Cetus Dara.
     Ya,memang akhir-akhir ini Dara sedang ada masalah dengan sahabat kecilnya yang bernama Rio.
Dari kemarin, Rio seperti tidak memperdulikannya lagi. Kian hari, dia selalu acuh padanya. Hal ini membuat Dara bertanya-tanya.
Ketika sampai di sekolah, Dara kembali di kejutkan oleh Rio yang sedang bermain- main bersama yang lain di SMP Boys sebelahnya, padahal dia sendiri tidak di pedulikan dengan Rio. Dara hanya dapat mengelus dada saja.
“Hufffttt.....rasanya hari hanya lewat saja, bagai kapas melayang. Hidupku cuma seperti robot yang dikendalikan. Suatu saat bisa dimatikan oleh yang punya. Kenapa ya... penyakit ini harus ada pada aku? kenapa yang lain gak? Aku udah seneng karena punya sahabat sejati, tapi sekarang.... Dia juga menjauh dari aku...” Keluhnya di halaman belakang sekolah.
     Dara mempunyai sebuah penyakit yang kecil harapannya untuk bisa sembuh. Yaitu, penyakit kanker darah atau leukimia akut. Hidupnya hanya tinggal beberapa minggu saja. Gejala- gejala sakitnya mulai terasa. Jika sudah seperti ini, Dara hanya bisa pasrah kepada Tuhan YME. Rio pun mengetahui hal ini, namun dia tidak tahu bahwa hidup sahabatnya itu tinggal menunggu hari saja.
Kringgg...kringg.... Jam pulang sekolah pun berbunyi.

Dara: “Rio!”
Rio: “Eh Dara. Iya ada apa?”
Dara: “Temenin aku ke toko buku yuk sebentar”
Rio: “Dar, kamu sebagai sahabat aku, masa enggak tahu sih aku jadwalnya apa? Aku itu lagi ada latihan nyanyi bareng temen-temen, jadi maaf aku enggak bisa temenin kamu ke toko buku”
Dara: “Cuma 1 jam aja kok”
Rio: “Aku bilang nggak ya enggak!”

     Tanpa terasa air mata Dara menetes, mukanya merah, dan badannya menjadi lemas. Itulah yang di rasakkan Dara ketika dirinya merasa sedih berat, terkadang dia juga sering pingsan.
“Untuk seorang sahabat sejati, meluangkanwaktu jam untuk sahabatnya, bukan hal yang berat...” ucap Dara sambil terisak.

***

     Hari demi hari Dara lewati tanpa Rio. Dia hanya bisa menyendiri di belakang sekolah sambil meratapi nasibnya yang semakin hari, semakin memburuk. Suatu hari mama Dara dikejutkan oleh teriakkan Dara dari kamar atas. Segera mamanya naik ke kamar Dara.

Dara: “Aduuuh sakiiiiit!”
Mama Dara: “Kamu kenapa sayang?”
Dara: “Kepala Dara sakit banget Mah, pusing. Badan aku dingin Mah”
Mama Dara: “Iya sayang, Mama tau. Ayo kerumah sakit sekarang!”

     Ketika sampai di rumah sakit, Dara dibaringkan di tempat tidur dan diperiksa oleh dokter pribadi Dara. Setelah di pindahkan di kamar rawat, dan di beri obat penghilang rasa sakit, Dara kembali tenang dan keadannya pulih kembali.
Tiba-tiba Dara meminta mama nya untuk mengambilkan handphone milik Dara di kantong jaketnya.
Dara ingin mengirimi pesan untuk Rio, bukan untuk menjenguknya, bukan juga untuk memberitahu Rio tentang dirinya. Namun, Dara ingin memberikan ucapan terakhir untuk Rio. Isinya adalah: To: Rio 
Hay Rio....! Lagi ngapain nih..? Lagi latihan nyanyi ya? Maaf kalo aku ganggu ya...? Rio, aku pengin bilang sesuatu ke kamu. Tolong ya, kamu jangan sms aku, jangan telfon aku, jangan temui aku, juga jangan cariin aku. Kamu boleh dateng dan cariin aku, kalo kamu udah bener-bener rindu sama aku. Oke??? 
By: Dara 
Itulah sms yang dikirim buat Rio. Dirumah Rio, dia pun membaca sms dari Dara.
“Maksudnya apa ya..? Emangnya kenapa sih..?” Rio pun menunjukkan muka herannya.

***

     Sudah 3 hari Dara tidak masuk sekolah. Ini yang dimaksud oleh Dara untuk Rio. Riopun mulai merasa rindu kepada sahabatnya. Biasanya, ada yang menyuruhnya dia istirahat, ini tidak ada satu kata pun. Akhirnya Rio menuruti sms dari Dara. Dia datang ke rumah Dara dengan motor miliknya.
     Namun, Rio kaget sekali. Karena di depan rumah Dara terdapat bendera kuning, dan dilihatnya orang tua Dara menangis terisak-isak. Juga dilihatnya Dara terbujur kaku ditutupi oleh kain coklat. Spontan saja, Rio berlari meninggalkan sepedanya di luar, dan menuju ke dalam rumah Dara. Rio pun menangis di depan jenazah Dara yang sudah pucat, dan kaku tersebut. Rio memeluk dan mencium Dara untuk terakhir kalinya. Mama Dara pun memberikan sepucuk surat untuk Rio, Mama Dara berkata pada Rio itu surat titipan Dara untuknya. Isi suratnya: 

To: Rio sahabatku 
Rio,kamu jangan sedih atas kepergianku... Aku sudah tau akan kematianku, jadi aku buru-buru menulis surat ini untuk kamu. Rio,kamu sudah berhasil melakukan apa yang aku mau, dengan tidak menemui aku, melepon aku dan mencari aku, tapi bisakah kamu melakukan untuk aku selamanya...? Aku yakin kamu bisa melakukan itu. Jangan nangis Rio, kalo kamu ingin curhat datang saja ke makam ku, kalo kamu kangen aku peluk saja nisan dan fotoku, tapi kalo kamu nangis aku enggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu, karena aku enggak akan bisa bangun untuk menghapus air mata kamu.... Ya??? Janji ??? Ya udah aku pergi dulu ya..?? Bye..! 
By: Sahabatmu, Dara.
     Itulah terakhir kalinya Rio melihat wajah Dara, hingga akhirnya Dara meninggalkan Rio untuk selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar