Minggu, 20 November 2011

Mencoba Sayang Part 2

     “Hoammm...” Ikmal terbangun dari tidurnya. Ia terbangun karena silau akan cahaya dari jendela kamarnya. Samar-samar Ikmal melihat sesosok perempuan cantik yang sudah rapi. Ya, tidak lain tidak bukan itu adalah istri yang amat dicintainya.

Mita: “Aduuh si abang Male tidur pules banget”
Ikmal: “Iya dong sayang.. Tumben kamu pagi-pagi udah cantik aja”
Mita: “Iya dong! Mimit gitu loh!”
Ikmal: “Iya Mimit sayang!”
Mita: “Yaudah sana mandi! Bau tau! Abis itu sarapan”
Ikmal: “Iya nyonya Ikmal!”
Mita: “Hehehe”

     Ikmal langsung bergegas mandi..
     Setelah 30menit selesai mandi, Ikmal bergegas ke ruang makan menyusul istrinya.


Ikmal: “Pagi cantik!”
Mita: “Apaan sih kamu Mal”
Ikmal: “Hehe bener kan. Emang kenyataan kali”
Mita: “Yaudah ayo makan. Aku udah capek-capek masak nih”
Ikmal: “Iya istriku!”

     Mereka berduapun makan. Ditengah makan mereka, Mita bertanya pada Ikmal.


Mita: “Enak gak masakan aku?”
Ikmal: “Enak! Enak banget”
Mita: “Jujur!”
Ikmal: “Keasinan sih sebenernya hehe.. Tapi tetep enak kok”
Mita: “Yaah... Keasinan kan”
Ikmal: “Eh, kemanisan juga nih”
Mita: “Serius?! Tadi aku pakein gulanya dikit kok”
Ikmal: “Iya, kemanisan! soalnya aku ngeliat muka kamu terus. Jadinya makin manis deh”
Mita: “Huu gombal”

     Mereka berdua memang terlihat seperti saling mencintai, tetapi didalam hati Mita, ia belum benar-benar mencintai Ikmal sepenuhnya. Namun, Mita tidak ingin melihat ayahnya yang sudah tenang dialam sana menjadi sedih dan kecewa.
     Diruang tamu...
Mita sedang melihat-lihat foto dihapenya. Tiba-tiba ia teringat akan kenangannya bersama Almarhum ayahnya. Mita terisak disofa sambil melihat foto terakhirnya bersama ayahnya. Tiba-tiba Ikmal datang


Ikmal: “Kenapa kamu nangis?” (mengelap airmata Mita)
Mita: “Aku kangen Ayah”
Ikmal: “Kamu kangen Ayah? Mau ke pemakaman ayah?”
Mita: “Iya aku mau”


     Mita pun bersiap-siap untuk ke pemakaman Ayahnya. Setelah siap, Mita dan Ikmal langsung pergi ke pemakaman Ayah Mita.
     Sesampainya dipemakaman...


Mita: (memeluk nisan Ayahnya) “Ayaaah! Mimit kangen!”
Ikmal: “Mit...” (mengelus punggung Mita)
Mita: “Aku kangen ayah! Aku pengen bercanda lagi sama ayah! Aku pengen kita main catur lagi Yah! Aku pengen kita debat tentang politik lagi! Aku kangen diomelin sama ayah! Aku kangen semua hal itu yah! Ayah.. Tolong jawab Mimit! Tolong bilang kalo Ayah juga kangen sama Mimit! Ayah lagi ngapain disana? Jawab Yah!” (dengan airmata yang deras)
Ikmal: “Mimit.. Sabar sayang!”
Mita: “Aku kangen Ayah! Aku nyesel kenapa dulu aku sering gak peduli sama nasihat Ayah”

2 jam Mita curhat di nisan Ayahnya. Setelah lelah, Mita mengajak Suaminya umntuk pulang kerumah.
     Dirumah... 


Mita: “Mal, aku mau cerita, tapi kamu jangan marah ya”
Ikmal: “Cerita apa? Gak kok. Aku ga akan marah. Mana bisa aku marah sama kamu”
Mita: (menarik nafas) “Hhhh... Oke... Sebenernya... Aku..... Eh gimana ngomongnya yaa?!”
Ikmal: “Emang mau ngomong apa sih sayang? Serius banget”
Mita: “Anu... Mmm... Sebenernya aku belom cinta banget sama kamu”
Ikmal: “Ooh... Ternyata kamu mau bilang hal itu.. Gapapa kali Mit. Aku juga ngerti”
Mita: “Tapi aku sayang kamu kok! Tenang aja”
Ikmal: “Iya.. Iya bawel! Walaupun kamu gak sayang aku juga aku seneng-seneng aja. Soalnya kita udah nikah, dan kamu ga bisa kemana-mana lagi. Hayoo...”
Mita: “Wuu! Iya iya.. Aku juga tau! Aku gaakan kemana-mana kok. Aku kan bukan Ayu Tingting yang lagi nyari Alamat Palsu. Wlee!” (menjulurkan lidahnya)
Ikmal: “Kemanaa.. Kemanaa.. Kemanaa..”
Mita: “Kesana kemari membawa alamat.. Namun yang kutemui bukan dirinya.. Sayang.. Yang kuterima alamat palsu”
Ikmal: “Kutanya sama teman-teman semua.. Tetapi mereka bilang tidak tau.. Sayang.. Mungkin diriku telah tertipu”
Mita: “Membuat aku frustasi.. Dibuatnya”
Ikmal: “Jiah, jadi duet gini.. Bisa-bisa ngalahin Anang Ashanti ini mah”
Mita: “Hehehe.. Ayo kita bikin lagu”
Ikmal: “Nggak, aku udah punya lagu sendiri buat kamu!”
Mita: “Aw.. Nyanyiin dong!”
Ikmal: “Oke. Tapi maap aja ya kalo suara aku jelek. Maklum, aku kan bukan penyanyi”
Mita: “Iya-iya.. Gak masalah itumah”
Ikmal: “Oke.. Ehm.. Ehm.. pernah aku mencintai wanita tapi tak seperti saat ku mencintaimu.. pernah aku merindukan wanita tapi tak seperti saat ku merindukanmu.. kamulah ratu di dalam hatiku ku cinta kamu sampai mati.. takkan pernah ada wanita yang bisa menggantikan kamu di hatiku.. menjadi ratu di hatiku.. pernah aku menikmati wanita tapi tak seperti saat ku menikmatimu.. pernah aku menangisi wanita tapi tak seperti saat ku menangisimu.. kamulah ratu di dalam hatiku ku cinta kamu sampai mati.. takkan pernah ada wanita yang bisa menggantikan kamu di hatiku.. menjadi ratu di hatiku..”
Mita: “Uuu so sweet! Aku juga punya lagu buat kamu! Mau denger gak nih?”
Ikmal: “Mau lah!”
Mita: “Okee.. tatapanmu memanah jantung hatiku.. lirikanmu menusuk relung kalubuku.. ku ingin selalu bersamamu berada dalam belaian rindu kasih.. senyumanmu getarkan seluruh tubuhku.. rayuanmu membuai mimpi indahku.. berjanji selalu temaniku seolah tak mau jauh dariku.. oh cuma kamu terbayang dalam mimpiku terbayang setiap waktu ku ingin bertemu.. oh cuma kamu satu- satunya milikku hatiku selalu untukmu selamanya..”
Ikmal: “Lagunya keren! Bagus! Ternyata kamu pinter nyiptain lagu juga”
Mita: “Heheheh”
Ikmal: “Oiya.. Aku ada lagu lagi buat kamu!”
Mita: “Apa?”
Ikmal: “Judulnya Maaf Aku Mencintaimu!”
Mita: “Wew! Nyanyiin dong! Please!”
Ikmal: “Oke..”
Mita: “Cepet”
Ikmal: “maaf aku mencintaimu.. walau mungkin engkau tak mencintaiku. . tak ingin ku merubah apa yang telah kita lewati berdua.. ku ingin itu untuk selamanya”
Mita: “Kamu pinter nyiptain lagu yaa”
Ikmal: “Itu karena ada kamu”
Mita: “Kok gitu?”
Ikmal: “Iya, karena kamu itu sumber inspirasi aku”
Mita: “Huu! Gombal lagi!”
Ikmal: “Beneran! Aku bisa aja nyiptain 1000 lagu kalo inspirasinya itu kamu”
Mita: “Masa? Coba yang bahasa inggris”
Ikmal: “Oke.. Siapa takut! Oh I am growing tired.. Of allowing you to steal.. Everything I have.. You're making me feel.. Like I was born to service you.. But I am growing by the hour.. You left us far behind.. So we all discard our souls.. And blaze through your skies.. So unafraid to die.. 'Cause I was born to destroy you.. And I am growing by the hour.. And I'm getting strong in every way.. Yeah, Yeah.. You led me on.. You led me on.. You Oh, and I'm getting strong in every way.. Yeah, Yeah”
Mita: “Kayaknya aku kenal itu lagu deh”
Ikmal: “Enak aja. Itu lagu ciptaan aku tau”
Mita: “Iiih boong! Itu kan lagunya MUSE! Band favorit aku! Itu kan lagunya aa’ Matthew Bellamy tau!”
Ikmal: “Hehehe apal aja kamu!”
Mita: “Iya lah! Aku kan fans nya!”
Ikmal: “Aduuh aku jadi pengen duet nih sama kamu!”
Mita: “Lagu apa emang? Maunya?”
Ikmal: “Hmmm.. Lagu apa yaa”
Mita: “Jangan bilang lagunya Anang Ashanti”
Ikmal: “Nggak lah sayang”

     Tiba-tiba...
Ting...... Tumg..... Ting..... Tung..... Bel rumah Ikmal dan Mita berbunyi. Mita bergegas membuka pintu.


Mita: “Eh elo!!!”


~To Be Continued~

Minggu, 13 November 2011

Misteri Bendera Kuning

     



     Lantunan lagu Sayangku- nya The Virgin mengiringi langkah Purie Andriani (Puri) menuju rumah sahabatnya, Fahrizal Achmad (Ijal). Tapi langkah Puri terhenti karena kakinya menginjak sesuatu yang dia pikir adalah selembar kertas. Saat Puri tundukkan kepalanya, ia tersentak. Bendera kuning! Bukannya itu berarti ada seseorang yang meninggal. Ia jadi agak parno. “Semoga bukan pertanda buruk” batin Puri. Lalu iapun melanjutkan langkahnya setelah sebelumnya ia letakkan kembali bendera itu di tempatnya. Dia lihat Ijal sedang asyik bermasker ria saat Puri masuk ke kamar kost-an nya. Tanpa komando, Puri pun langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur Ijal.


Ijal: “Dari mana, sih, lo cyin?” (dengan suara tak jelas)

Puri: “Ngomong apa, sih, lo?” (mendekatkan wajah Ijal yang hampir tertutup masker itu ke depan wajahnya)
Ijal: “Puriiii! Ancur, deh, muka eike. Berantakan semua perawatan eike. Gara-gara yey, nih”



     Lalu dengan setengah berlari Ijal menuju kamar mandi. Puri hanya tersenyum melihat tingkah Ijal yang seperti cacing kepanasan.

Dengan wajah cemberut, Ijal menghampiri Puri.



Ijal: “Dasar lo bisanya ngerecokin eike aja”

Puri: “Lagian lo, saban hari kerjaannya perawatan mulu. Mau cari cewe apa cowo, nih?”
Ijal: “Iyyhh….dasar yey emang sobat yang durhaka tiada tara”



     Puri hanya tertawa. Ijal adalah sahabat Puri sejak SMA. Dia itu cowo yang baik, tapi…ya itu tadi lah… agak sedikit feminim! Padahal kalo dia bener-bener cowo, pasti banyak banget, deh, cewe yang ngantri jadi pacarnya. Perhatian dari seorang ibu ngga pernah dia dapet sejak kecil. Makanya sikapnya jadi feminim. Walau begitu, Puri tetap menyayangi dia sebagai sahabatnya.

     Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba Puri teringat peristiwa tadi. Puri terdiam sejenak.



Ijal: “ Napa lo tiba-tiba diem gitu? Kaya orang kesambet aja”

Puri: “Jal, di gang sebelah ada yang meninggal, ya?”
Ijal: “Gang yang mana?”
Puri: “Itu, lho, gang yang di depannya ada pohon beringin itu”
Ijal: “Oh, itu. Iya, ada yang meninggal. Cuco, lagi”
Puri: “Emang meninggal gara-gara apa?”
Ijal: “Yang eike denger, sih, katanya kecelakaan. Ih..serem, deh”
Puri: “Oh….”
Ijal: “Kenapa emangnya?”
Puri: “Tadi, gua ngga sengaja nginjek bendera kuningnya yang jatoh di depan gua, Jal”
Ijal: “Apa? Serius lo, Nek?” 
Puri mengangguk pelan.
Ijal: “Aduh…gimana, sih, yey. Makanya kalo jalan, tuh, liat- liat”
Puri: “Ya, gua, kan, ngga sengaja. Lagian gua juga ngga tau kalo, tuh,bendera jatoh di depan gua, Jal. “Terus gimana, dong?”
Ijal: “Ya udah, lah. Semoga ngga terjadi hal buruk.”



     Sudah beberapa hari sejak kejadian itu. Dan Puri pun sering merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang mengikutinya kemanapun ia pergi, tapi Puri tidak tahu itu apa dan siapa.

     Malam ini hujan turun cukup deras. Jam udah lewat angka sebelas. Puri mencoba memejamkan mata untuk tidur, tapi tidak bisa. Puri merasakan ada udara dingin yang merasuk ke tubuhnya. Tiba-tiba saja tengkuknya seperti ditiup. Bulu romanya pun berdiri. Angin yang cukup kencang memainkan gorden jendela kamarnya. Puri merasa melihat sekelebat bayangan melintas di depan matanya. Spontan Puri pejamkan matanya. Untuk beberapa saat Puri tidak berani membuka mata.
     Tapi,kucoba untuk membuka mataku perlahan. Dan mataku terbelalak saat aku melihat sesosok tubuh sudah duduk disampingku. Ingin sekali rasanya menjerit sekencang- kencangnya, tapi suaraku rasanya tetahan di tenggorokanku. Aku kembali memejamkan mataku dan berharap saat kubuka mataku lagi, sosok itu sudah menghilang. Tapi, saat Puri membuka kembali matanya sosok itu malah semakin nyata di depannya. Wajah Puri langsung memucat, keringat dingin mengucur dari wajahnya. Sosok itu menatap Puri. Tatapannya begitu tajam.
     Menurut Puri, sosok itu memiliki mata yang indah dan wajah yang tampan. Tapi sayang pucat pasi. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga Puri bisa merasakan suara detakannya. Sosok itu tersenyum.



Puri: “L...lo.. Siapa?”

Wahyu: “Sory, gue gak bermaksud bikin lo takut. Gue Wahyu Sudiro, masa lo lupa sih?”
Puri: “Gua ngga kenal sama lo. Lagian, lo bukan manusia, kan”
Wahyu: “Emang gua bukan manusia”
Puri: “Terus ngapain lo di sini?”
Wahyu: “Ya ini gara-gara lo sendiri”
Puri: “Gara-gara gua gimana maksud lo?”
Wahyu: “Lo udah nginjek bendera gua. Inget ngga?”



     Puri mengernyitkan dahi. Bendera? Jangan-jangan… Sosok yang ada di depannya ini adalah orang yang meninggal yang bendera kuningnya tidak sengaja diinjak.




Puri: “Jadi lo orang yang meninggal itu?”

Wahyu: “Yup! Dan sekarang gua akan terus ngikutin lo”
Puri: “Apa maksud lo akan terus ngikutin gua?”
Wahyu: “Ya gue akan ngikutin lo terus kemanapun lo pergi”
Puri: “Kenapa?”
Wahyu: “Ya itu karna lo udah nginjek bendera gua. Itu, kan, sama aja lo ngga menghormati gua”
Puri: “Tapi itu , kan, bukan kesengajaan. Gua juga ngga tau kalo ada bendera jatoh di kaki gua”
Wahyu: “Ya poko’ nya itu, sih, urusan lo. Yang penting sekarang gua akan ngikutin lo terus”



     Bener-bener mimpi buruk bagi Puri. “Kutukan. Yang bener aja, masa gue harus diikutin kemanapun gue pergi, apa lagi yang ngikutin bukan manusia. Sampai kapan harus begini terus.” batin Puri.




Puri: “Mau sampe kapan lo ngikutin gua?”

Wahyu: “Mmmm…sampe kapan ya…”
Puri: “Ngga mungkin, kan, lo ngikutin gua selamanya?”
Wahyu: “Mungkin aja”



     Andai aja Puri bisa menyentuhnya, pasti Puri sudah tonjok wajahnya yang tampan itu. Tapi semuanya hanya tertahan dalam hati Puri saja. Puri sangat sangat membencinya. Gara-gara dia hidup Puri jadi ngga normal. Beberapa temannya berfikir Puri sudah tidak waras karena mereka ser




ing memergoki Puri ngomong sendiri. Padahal Puri lagi ngomong sama hantu yang menyebalkan baginya. Bahkan Ijal sahabatnya pun ngga percaya sama ceritanya. Beberapa kali Puri mencoba membuktikan pada Ijal kalo Puri bener-bener lagi diikutin hantu. Tapi sialnya, Wahyu sama sekali tidak mau menampakkan dirinya sama Ijal.



***

     Suatu hari...

Wahyu: “Kenapa lo diem aja?”
Puri: “Gue lagi mikir”
Wahyu: “Mikir apa?”
Puri: “Gua lagi mikir gimana caranya biar lo ngga ngikutin gua terus”
Wahyu: “Gua, kan, udah kasih tau lo gimana caranya”
Puri: “Tapi, kan, itu ngga mungkin Yu. Gua aja ngga tau bendera itu ada dimana. Lagian, ngga mungkin juga masih disimpen ampe sekarang”
Wahyu: “Ya itu, sih, de-el. Berarti gua akan terus ngikutin lo selamanya”
Puri: “Ngga bisa gitu, dong. Gua, kan, pengen hidup normal. Gara-gara lo gua jadi putus sama cowo gua. Dia juga mikir gua udah ngga waras”
Wahyu: “Salah cowo lo sendiri, kenapa dia mutusin lo. Berarti dia ngga sayang sama lo. Buktinya, dia aja ngga percaya sama lo”

“Kenapa ini harus terjadi sama gue? Sampe kapan gue akan terus diikuti sama Wahyu?” batin Puri.

     Belakangan ini Puri jarang mengobrol dengannya lagi. Dia juga jarang menampakkan dirinya pada Puri. Dan, dalam hati Puri mulai timbul perasaan yang aneh. Ngga mungkin ini cinta! Tapi, jujur Puri merasa kehilangan dia.




Malam ini, Wahyu belum muncul. Seharian Puri belum melihatnya. 



Puri: “Wahyu.. Yu.. Lu dimana Yu? Lo disini?”

     Tapi masih tidak ada jawaban. Hufft! Puri merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memandang langit-langit kamarnya yang berwarna hitam itu. “Wahyu kemana, ya? Kenapa hari ini dia ngga muncul?” batin Puri.
Dipejamkan matanya, tapi terasa ada hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Saat Puri membuka mata... “Wahyu?” 
     Dia tersenyum. Puri baru sadar, tubuh Wahyu berada di atas tubuhnya. Wajahnya yang pucat itu, berada begitu dekat dengan wajahnya. Mereka saling menatap. Makin dalam… Tangan Wahyu mengusap kening Puri. Dingin. Lalu tersenyum.

Wahyu: “Maaf, ya, Puri…”
Puri: “Maaf? Kenapa?”
Wahyu: “Selama ini gua udah bohongin lo”
Puri: “Bohong soal apa, Yu?”
Wahyu: “Gua bohong soal bendera kuning itu”
Puri: “Maksud lo?”
Wahyu: “Lo ngga harus nyari bendera itu buat bikin gua ngga ngikutin lo lagi. Sebenernya, gua bisa pergi kapanpun gua mau”
Puri: “Apa?”
Wahyu: “Gua Cuma pengen bisa deket sama lo aja, Ri. Tapi gua nyesel banget. Kenapa baru sekarang gua bisa deket sama lo. Kenapa ngga waktu gua masih hidup aja”
Puri: “Yu…”
Wahyu: “Itulah bodohnya gua, Ri. Gua ngga punya keberanian buat deketin lo”
Puri: “Tapi dulu, kan, kita ngga saling kenal” 
Wahyu: “Gua suka merhatiin lo diem- diem, Ri. Pertama kali gua liat lo jalan di depan gang itu, gue ngerasa ada perasaan yang lain yang sebelumnya ngga pernah gue rasain, Ri. Cinta! Makin lama perasaan itu makin dalem gua rasa. Dan, gua ngga bisa nahan lagi. Lo inget, ngga, hari dimana lo nginjek bendera kuning itu?”
Puri mengangguk pelan.
Wahyu: “Hari itu, pagi-pagi banget gua udah siap-siap. Gue pengen nyatain perasaan yang selama ini gua pendem sama lo, Ri. Yah, walaupun sebelumnya kita ngga saling kenal. Dengan ngga sabar gua ngendarain motor gua dengan cepet. Sampe…”
Puri: “Yu...”
Wahyu: “Saat gua sadar, ternyata raga sama roh gua udah misah, Ri”
Puri: “Gue pengen nyentuh lo Yu”
Wahyu: “Ikutin perintah gue!”

     Puri mengangguk. Wahyu menyuruh Puri untuk memejamkan mata dan membayangkan wajah Wahyu, dan merasakan apa yang Puri rasakan.
     Kemudian Puri merasakan pelukan yang begitu erat, namun dingin. Puri mulai membuka matanya.

Wahyu: “Gue sayang sama lo Ri”
Puri: “Gue ga mau pisah sama lo Yu!”
Wahyu: “Gue juga Ri, tapi kita gak mungkin nyatu karena alam kita udah beda”
Puri: “Kenapa ini harus terjadi sama gue?!”
Wahyu: “Ini saatnya Ri. Gue harus pergi sekarang”
Puri: (kepalanya menggeleng) “Nggak! Lo gak boleh pergi Yu! Jangan tinggalin gue sendirian!”
Wahyu: “Gue juga gak mau ninggalin lo Ri, tapi gue harus”

     Puri menggenggam tangan Wahyu dengan erat. Mengiba pada Wahyu agar ia tidak pergi. Tapi mungkin hanya sia-sia.

Wahyu: “Jaga diri lo baik-baik ya Ri”
Puri mengangguk penuh airmata.
Wahyu: “Hey... Janji satu hal sama gue!”
Puri: “Apa?”
Wahyu: “Jangan pernah sedih dan nangis lagi ya. Kalo lo gabisa janji, gue ga akan tenang disana”
Puri mengangguk pelan.
Wahyu: “Senyum dong! Gue kan ga mau pergi tanpap senyum lo”
Puri pun tersenyum
Wahyu: “Gue pergi ya...”
Puri: “Wahyu”
Wahyu: “Gue tinggalin sesuatu buat lo di laci. Simpen baik-baik ya. Gue sayang sama lo”

     Itulah kata-kata terakhir yang Puri dengar dari Wahyu. Perlahan sosok wahyu menghilang bersama angin.
Dan seketika menjadi senyap.
     Puri teringat pesan Wahyu. Bergegas puri membuka laci mejanya. Puri tersentak. Bendera kuning.. Puri mengambilnya. secarik kertas oranye terselip bersamanya.

     Untuk yang terindah, Walaupun kita takkan pernah menyatu, namun cintaku hanya untukmu.. Kau adalah hal terindah yang pernah kudapat dalam kehidupan kedua ku. Tapi aku tak kan pernah menyesal, karena aku bahagia telah mengenalmu…. Selamanya cinta…
Wahyu.

Puri segera memeluk bendera kuning itu.
“Aku ga akan pernah ngelupain kamu Yu” batin Puri.

Hari-hari Terakhir Dara

 
     




     Di pagi yang cerah, seperti biasa Dara merapikan buku- bukunya untuk sekolah. “La..la...la...la....” Suara merdu nya mengiringi segala kegiatannya di pagi itu. Ketika semua sudah selesai, dan segalanya telah di persiapkan, Dara segera memakai sepatu lorengnya yang di taruh di bawah lemari.
“Ih......susah banget sih...! Akhirnya kakiku masuk juga.” keluhnya. Memang ukuran sepatu Dara agak kecil, karena sudah dari dulu Dara belum membeli lagi, itulah sifatnya. Dara adalah seorang anak yang hemat, tidak suka berneko-neko, rapi, dan rajin. Makanya, orang tua Dara sangat bangga dengan anak semata wayangnya tersebut.
Setelah sepatu di kakinya terpakai rapi, saatnya berangkat ke sekolahnya. Dara bersekolah di SMP Girls. Orang tuanya memang sangat memperhatikan Dara, hingga akhirnya Dara dimasukkan ke dalam SMP khusus para remaja putri.
“Saatnya going to school dech... Hmmm... mudah- mudahan sampai di sekolah gak ada masalah kayak kemarin lagi ah... jadi sebel...!” Cetus Dara.
     Ya,memang akhir-akhir ini Dara sedang ada masalah dengan sahabat kecilnya yang bernama Rio.
Dari kemarin, Rio seperti tidak memperdulikannya lagi. Kian hari, dia selalu acuh padanya. Hal ini membuat Dara bertanya-tanya.
Ketika sampai di sekolah, Dara kembali di kejutkan oleh Rio yang sedang bermain- main bersama yang lain di SMP Boys sebelahnya, padahal dia sendiri tidak di pedulikan dengan Rio. Dara hanya dapat mengelus dada saja.
“Hufffttt.....rasanya hari hanya lewat saja, bagai kapas melayang. Hidupku cuma seperti robot yang dikendalikan. Suatu saat bisa dimatikan oleh yang punya. Kenapa ya... penyakit ini harus ada pada aku? kenapa yang lain gak? Aku udah seneng karena punya sahabat sejati, tapi sekarang.... Dia juga menjauh dari aku...” Keluhnya di halaman belakang sekolah.
     Dara mempunyai sebuah penyakit yang kecil harapannya untuk bisa sembuh. Yaitu, penyakit kanker darah atau leukimia akut. Hidupnya hanya tinggal beberapa minggu saja. Gejala- gejala sakitnya mulai terasa. Jika sudah seperti ini, Dara hanya bisa pasrah kepada Tuhan YME. Rio pun mengetahui hal ini, namun dia tidak tahu bahwa hidup sahabatnya itu tinggal menunggu hari saja.
Kringgg...kringg.... Jam pulang sekolah pun berbunyi.

Dara: “Rio!”
Rio: “Eh Dara. Iya ada apa?”
Dara: “Temenin aku ke toko buku yuk sebentar”
Rio: “Dar, kamu sebagai sahabat aku, masa enggak tahu sih aku jadwalnya apa? Aku itu lagi ada latihan nyanyi bareng temen-temen, jadi maaf aku enggak bisa temenin kamu ke toko buku”
Dara: “Cuma 1 jam aja kok”
Rio: “Aku bilang nggak ya enggak!”

     Tanpa terasa air mata Dara menetes, mukanya merah, dan badannya menjadi lemas. Itulah yang di rasakkan Dara ketika dirinya merasa sedih berat, terkadang dia juga sering pingsan.
“Untuk seorang sahabat sejati, meluangkanwaktu jam untuk sahabatnya, bukan hal yang berat...” ucap Dara sambil terisak.

***

     Hari demi hari Dara lewati tanpa Rio. Dia hanya bisa menyendiri di belakang sekolah sambil meratapi nasibnya yang semakin hari, semakin memburuk. Suatu hari mama Dara dikejutkan oleh teriakkan Dara dari kamar atas. Segera mamanya naik ke kamar Dara.

Dara: “Aduuuh sakiiiiit!”
Mama Dara: “Kamu kenapa sayang?”
Dara: “Kepala Dara sakit banget Mah, pusing. Badan aku dingin Mah”
Mama Dara: “Iya sayang, Mama tau. Ayo kerumah sakit sekarang!”

     Ketika sampai di rumah sakit, Dara dibaringkan di tempat tidur dan diperiksa oleh dokter pribadi Dara. Setelah di pindahkan di kamar rawat, dan di beri obat penghilang rasa sakit, Dara kembali tenang dan keadannya pulih kembali.
Tiba-tiba Dara meminta mama nya untuk mengambilkan handphone milik Dara di kantong jaketnya.
Dara ingin mengirimi pesan untuk Rio, bukan untuk menjenguknya, bukan juga untuk memberitahu Rio tentang dirinya. Namun, Dara ingin memberikan ucapan terakhir untuk Rio. Isinya adalah: To: Rio 
Hay Rio....! Lagi ngapain nih..? Lagi latihan nyanyi ya? Maaf kalo aku ganggu ya...? Rio, aku pengin bilang sesuatu ke kamu. Tolong ya, kamu jangan sms aku, jangan telfon aku, jangan temui aku, juga jangan cariin aku. Kamu boleh dateng dan cariin aku, kalo kamu udah bener-bener rindu sama aku. Oke??? 
By: Dara 
Itulah sms yang dikirim buat Rio. Dirumah Rio, dia pun membaca sms dari Dara.
“Maksudnya apa ya..? Emangnya kenapa sih..?” Rio pun menunjukkan muka herannya.

***

     Sudah 3 hari Dara tidak masuk sekolah. Ini yang dimaksud oleh Dara untuk Rio. Riopun mulai merasa rindu kepada sahabatnya. Biasanya, ada yang menyuruhnya dia istirahat, ini tidak ada satu kata pun. Akhirnya Rio menuruti sms dari Dara. Dia datang ke rumah Dara dengan motor miliknya.
     Namun, Rio kaget sekali. Karena di depan rumah Dara terdapat bendera kuning, dan dilihatnya orang tua Dara menangis terisak-isak. Juga dilihatnya Dara terbujur kaku ditutupi oleh kain coklat. Spontan saja, Rio berlari meninggalkan sepedanya di luar, dan menuju ke dalam rumah Dara. Rio pun menangis di depan jenazah Dara yang sudah pucat, dan kaku tersebut. Rio memeluk dan mencium Dara untuk terakhir kalinya. Mama Dara pun memberikan sepucuk surat untuk Rio, Mama Dara berkata pada Rio itu surat titipan Dara untuknya. Isi suratnya: 

To: Rio sahabatku 
Rio,kamu jangan sedih atas kepergianku... Aku sudah tau akan kematianku, jadi aku buru-buru menulis surat ini untuk kamu. Rio,kamu sudah berhasil melakukan apa yang aku mau, dengan tidak menemui aku, melepon aku dan mencari aku, tapi bisakah kamu melakukan untuk aku selamanya...? Aku yakin kamu bisa melakukan itu. Jangan nangis Rio, kalo kamu ingin curhat datang saja ke makam ku, kalo kamu kangen aku peluk saja nisan dan fotoku, tapi kalo kamu nangis aku enggak bisa berbuat apa-apa untuk kamu, karena aku enggak akan bisa bangun untuk menghapus air mata kamu.... Ya??? Janji ??? Ya udah aku pergi dulu ya..?? Bye..! 
By: Sahabatmu, Dara.
     Itulah terakhir kalinya Rio melihat wajah Dara, hingga akhirnya Dara meninggalkan Rio untuk selama-lamanya.

Kamis, 10 November 2011

Balapan Cinta

   

     Kantin sekolah Nusa Raya penuh sesak saat jam istirahat. Di meja dekat sebuah pohon, seorang cewek sedang sibuk berkutat dengan laptopnya. Dia adalah Cameria Happy Pramita (Mita), anak XII IPS C. Dia adalah Cewek paling cantik, tajir, jago basket dan pintar di sekolahnya. Namun sayang, Mita adalah cewek tomboy, dia senang balapan, dan kadang membuat onar sekolah. Hampir setiap hari Mita bolak balik ruang BP. Tidak heran kalau dia terkenal di sekolahnya. Mita mempunyai tujuh orang sahabat. Mereka adalah Puri, Tharas, Dara, Tata, Rio, Icez dan Mulan. Mereka sudah bersahabat sejak SD. Saat jam istirahat, lima dari ketujuh sahabat Mita menghampiri nya.

Puri: “Woy Mit, udah selesai belum desain buat kaos kita?”
Mita: “Lo bikin kaget gue aja. Hmm.. Udah selesai nih, Lihat dulu aja.”
Icez: “Coba sini gue liat.”
Puri: “Ah elu Ces, nyerobot antrean lo.”
Mita: “Dari dulu sampai sekarang, lo berdua doyan ribut mulu. Oya, Si Rio ama Tharas mana? Tumben tuh anak nggak ke kantin.”
Dara: “Biasa Mit, tuh anak berdua lagi ngecengin cewek di perpus.”
Mita: “Pantes aja tiap istirahat pasti pada lari ke perpus.”

      Krrrriiiiiiiiiinnnnnnnngggggggg………………. Tiba-tiba bel tanda masuk berbunyi. Para siswa menuju kelasnya masing-masing, begitupun dengan Mita dan teman-temannya.
      Saat Mita berdiri dan membalikkan badannya, tanpa sengaja seorang cowok cakep menumpahkan minuman ke baju Mita. Cowok tersebut adalah Rajasa Ikmal Tobing (Ikmal), teman sekelas Mita dan juga musuh bebuyutan nya dari SMP dalam hal apa saja, terutama di arena balap. Mita geram bukan main dan langsung marah-marah kepada Ikmal.

Mita: “Anjrit lo Mal. Lo sengaja numpahin nih minuman ke baju gue kan. Mau bales dendam lo?”
Ikmal: “Sorry deh gue nggak sengaja. Siapa juga yang mau bales dendam ama lo, nggak penting banget gitu”
Mita: “Laga lo kayak kambing! Males gue ngomong ama lo! Dasar lo playboy cap kapak.”
Ikmal: “Lo kira merk minyak angin cap kapak. Dasar lo cewek gila, pantas lo jadi jomblo mulu. Cowok- cowok mana ada yang mau sama lo”
Mita: “Lo ngatain gue, anjrit lo Mal” (bersiap menonjok Ikmal, namun ditahan oleh Mulan)
Mulan: “Udah Mit, jangan ribut di sini. Mending kita balik ke kelas. Sekarang udah bel, ntar kita di strap kalau telat masuk”
Tata: “Mulan bener Mit, sekarang kita masuk aja.”
Mita: “Ya udah deh”

      Sabtu malam, ketujuh sahabat Mita sedang menunggunya di jalanan tempat mereka biasa balapan. Mereka bersama tiga orang cowok, yaitu anak-anak RaCross. Salah satu nya adalah Ikmal. Malam ini Ikmal akan balapan melawan Mita. Lama mereka menunggu, Mita tak kunjung datang. Beberapa kali Rio menelpon Mita, namun tak ada jawaban satupun. Tak seperti biasanya, Ikmal dengan tenang menunggu.

Ijal: “Lama banget sih temen lo itu. Takut ya hadapin kita-kita.”
Icez: “Dalam kamus anak Blackheart nggak ada kata takut, apalagi buat Mita”
Ijal: “Ngaku aja kalau kalian takut. Buktinya Mita nggak muncul-muncul juga kan”
Ikmal: “Udah jangan pada ribut, kita tunggu sebentar lagi.”

      Dari kejauhan terlihat sebuah motor sedang melaju kencang ke tempat itu. Rio mengenali kalau pengendara motor itu adalah Mita. Rio melambaikan tangannya, memberi tanda kepada Mita. Mita pun segera menghampiri mereka.

Rio: “Akhirnya Mimit datang. Buat bos Mimit mah nggak ada kata takut kali!”
Mita: “Sorry ya gue telat. Tadi gue ada urusan bentar”
Icez: “Nggak apa-apa kok Mit. Sekarang kita mulai aja balapannya, anak-anak RaCross udah nggak sabar.”
Mita: “Ok.”

      Mita langsung mengambil tempat untuk balapan, kemudian di susul oleh Ikmal.
“Siap semua. Satu.. Dua.. Tiga.. Go…!!” Seru Puri sambil menjatuhkan bendera tanda balapan di mulai.
      Balapan dimulai. Ikmal berada di urutan depan Mita. Namun Mita tidak tinggal diam. Dia mempercepat laju motornya yang kemudian mendahului Ikmal dan berada di posisi depan. Kedua pembalap sangat hebat dan piawai dalam melewati rintangan di jalanan. Garis finish hampir sampai, Ikmal berusaha mendahului Mita namun tidak bisa. Tak berapa lama, Mita sampai di garis finish disusul Ikmal yang berada di belakangnya.     Teman-temannya bersorak atas kemenangan Mita. Untuk kesekian kalinya Mita menang balapan. Ikmal kemudian menghampiri Mita dan teman-temannya.

Ikmal: “Selamat ya Mit”
Mita: “Yups. Thanks ya Mal”
Ikmal: “Sama-sama Mit. Ntar kapan-kapan kita bisa balapan lagi kan.”
Mita: “So pasti donk.”
Ikmal: “Kita-kita cabut dulu ya. Sekali lagi selamat buat kalian semua.”

      Ikmal dan teman-temannya pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang hanya tinggal Mita dan teman-temannya ingin merayakan kemenangan Mita.

***

      Pagi itu Mita terlambat datang ke sekolah. Dia tergesa-gesa menyusuri koridor sekolahnya dengan membawa banyak buku. Tanpa sengaja dia menabrak Ikmal yang ternyata juga datang terlambat.

Mita: “Sorry. Gue nggak sengaja.” (sambil membereskan buku-bukunya yang berserakan)
Ikmal: “Nggak apa-apa kok Mit, santai aja” (membantu Mita membereskan bukunya)
Mita: “Lo ngapain di sini Mal? Lo telat juga?”
Ikmal: “Iya nih. Buruan yuk masuk, kayaknya Pak Dhani udah masuk kelas tadi.”
Mita: “Yuk!”
Ikmal: “Lo kenapa telat? Tadi malem balapan lagi?”
Mita: “Iya... Lo sendiri?”
Ikmal: “Tadi malam gue jalan ama temen-temen. Ada acara gitu.”
Mita: “Oh..... Oya, tumben Lo baek ma gue. Biasanya lo anti banget kayaknya ama gue”
Ikmal: “Nggak kebalik non? Biasanya elu yang suka marah-marah ama gue”
Mita: “Hehehe”

      Saking asiknya berbincang, ternyata mereka telah sampai di depan kelas mereka. Saat akan memasuki kelas, mereka disambut oleh teriakan heboh dari teman- temannya dan kemudian omelan Pak Dhani.

Ijal: “Suiiitttt…. Suiiiiitttt… Anjing ma kucing barengan nih, ada angin apa nih.”
Tharas: “Angin puting beliung kali.”
Pak Dhani: “Sudah diam anak- anak. Kalian berdua ini, sudah hampir setengah jam kalian terlambat.”
Ikmal: “Sa…. ya..” (Belum sempat Ikmal menjelaskan, pak Dhani memotong kata-kata Ikmal)
Pak Dhani: “Sudah.. sudah. Bapak tidak mau mendengar penjelasan kalian, sekarang kalin berdua berdiri di depan kelas. Kaki diangkat satu dan tangan di telinga”
Mita: “Tapi pak. Kayak anak SD aja”
Pak Dhani: “Nggak ada tapi- tapi’an. Cepat laksanakan!”
Mita dan Ikmal: “Baik pak”

      Rio dan Dara cengengesan dan mengolok-olok Mita. Mita menatap tajam ke arah mereka berdua. Tapi, Rio dan Dara tidak peduli dengan tatapan Mita. Dalam hati Mita berkata “Awas kalian berdua”.

Pak Dhani: “Ayo anak-anak kita lanjutkan pelajaran. Tidak usah kalian hiraukan dua makhluk di depan ini.”

      Sore itu Ikmal dan teman-temannya sedang hang out bareng. Seperti biasa, mereka selalu membicarakan masalah cewek atau balapan dan hal yang kurang penting lainnya. Namun, sore itu sepertinya pembicaraan mereka serius.

Ijal: “Mal, kok loe putus sih ma Beby Niken? Padahal kan Beby cewek yang cantik gitu”
Ikmal: “Gue ngerasa nggak cocok aja sama dia. Apa yang gue lakukan selalu salah, nggak ada yang bener di mata dia.”
Ijal: “Trus Alexa gimana Mal?”
Ikmal: “Itu udah gue putusin dari dulu.”
Ijal: “Jadi sekarang cewek lo siapa dong?”
Ikmal: “Nggak ada.”
Ijal: “Sumpeh lo?”
Ikmal: “Yups. Semua cewek-cewek gue, udah gue putusin. Sekarang gue pengen tobat dan gue mau serius pacaran ama satu orang.”
Ijal: “Wow. Emang loe mau ngegebet siapa sih? Kayaknya istimewa banget, cerita ke kita dong”
Ikmal: “Tapi kalian jangan kaget ya. Gue harap lo pada dukung gue.”
Ijal: “Iya bawel. Buruan bilang, siapa cewek yang beruntung itu dan bisa buat lo mau berubah.”
Ikmal: “Mita”
Ijal: “Hah..??? Gue ngga salah denger nih. Coba lo bilang sekali lagi.”
Ikmal: “MITA.. M.I.T.A. MITA..”
Ijal: “What???????”
Ikmal: “So, kalian mau kan bantu gue.”

      Ijal dan teman-temannya terkejut bukan main. Mereka melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan Ikmal. Mereka mengira mungkin itu hanya ucapan keisengan Ikmal saja. Namun Ikmal menganggukkan kepalanya, tanda dia serius dengan ucapannya. Mau tidak mau Ijal dan teman-temannya membantu Ikmal.
Hari demi hari berlalu. Ikmal mulai sering mendekati Mita dan tidak pernah lagi jutek kepadanya. Mita bingung dengan sikap Ikmal. Bukan hanya Mita yang bingung dengan sikap Ikmal, tapi juga semua murid yang ada di kelasnya. Mita seolah tak begitu peduli, dipikirannya mungkin Ikmal sedang kesambet.
     Dua bulan berlalu, Ikmal tetap berusaha mendekati Mita. Pada suatu hari, Tharas dan Icez menemui Ijal untuk bertanya tentang sikap Ikmal kepada Mita.

Icez: “Lo tau nggak Jal, si Ikmal kenapa? Udah dua buan terakhir dia deketin Mimit mulu.”
Ijal: “Masa kalian nggak nyadar sih, kalau si Ikmal itu suka ma Mita”
Icez: “Masa sih Jal?”
Tharas: “Lo nggak bohong kan Jal?”
Ijal: “Suer deh. Demi Mita, Ikmal berubah.”
Tharas: “Kayaknya Mita juga suka deh sama Ikmal, walaupun sikapnya masih cuek gitu.”
Ijal: “Kok lo bisa berpikiran kayak gitu sih, Tar?”
Tharas: “Dulu Mita pernah cerita sama gue, dia itu suka sama gue, dia itu suka sama seorang cowok. Tapi Mita juga benci sama cowok itu, karena dia sering buat Mita marah atau kesal. Siapa lagi coba cowok itu, kalau bukan Ikmal. Cuma dia kan satu-satunya cowok yang sering buat Mita marah setengah mati.”
Ijal: “Bener juga ya Tar.”
Icez: “Hmm.. Lo pada ada ide nggak biar bisa bikin mereka jadian?”
Tharas: “Bikin Dinner aja di tempat biasa kita balapan. Kan tempatnya bagus tuh, gimana?”
Ijal: “Ide bagus tuh. Lo kasih tahu anak-anak yang laen, gue kasih tahu si Ikmal. Ntar sabtu ini kita siapin semuanya. Usahain Mita jangan sampai tahu dulu.”
Tharas dan Icez: “Sipp!”

      Disekolah...

Ikmal: “Mit, sabtu ada waktu nggak? Gue mau ajak lo jalan boleh?”
Mita: “Mau kemana emang?”
Ikmal: “Ntar lo tahu sendiri lah. Mau ya.”
Mita: “Ya udah deh, gue mau. Tapi lo jangan macem-macem. Awas lo”
Ikmal: “Iya bos!”

      Ternyata dari balik semak-semak, anak-anak Blackheart dan RaCross sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua. Ikmal memberi tanda kalau Mita mau di ajak pergi. Mereka pun senang dan bersiap menyusun rencana selanjutnya.

***

      Hari yang dinanti tiba, segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh mereka. Malam itu cuaca sangat bersahabat. Tharas dan yang lainnya bersembunyi sambil menunggu kedatangan Ikmal dan Mita. Tak berapa lama, Ikmal dan Mita sampai di tempat tujuan. Ikmal keluar dari mobil sambil menuntun Mita yang matanya tertutup oleh kain.

Ikmal: “Sekarang, lo bisa buka mata lo”
Mita: “Wow. Ini indah banget. Tempat ini kayaknya gue pernah lihat. Tapi dimana ya, gue lupa.”
Ikmal: “Lo bukan hanya pernah lihat, tapi lo sering kemari buat balapan”
Mita: “Maksud loe?”
Ikmal: “Ini tempat kita sering balapan. Tapi untuk malam, tempat ini khusus buat elu, Mit (kemudian menggenggam tangan Mita. Mita jadi bingung) Gue nggak akan basa-basi lagi. Loe mau nggak jadi cewek gue Mit? Gue udah lama suka sama lo, tapi gue aja yang nggak sadar akan hal itu. So, gue nggak mau kehilangan elu, gue sayang banget sama lo. I love you, Mita”

      Tanpa diduga-duga, Tharas cs dan Ijal cs keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka pun menyoraki Mita untuk menerima cinta Ikmal. Mita terkejut bukan main saat melihat mereka.

Mita: “Lo pada ngapain di sini?”
Dara: “Nggak usah basa- basi Mit terima aja cintanya si Ikmal. Lo juga suka kan sama dia”
Anak-anak: “Terima.. Terima.. Terima.. Terima.”
Mita: “Hmmm......Ok deh Mal, gue mau jadi cewek lo”
Ikmal: “Makasih ya Mit!” (sambil memeluk Mita)
Anak-anak: “Hoorreeeee..”
Dara: “Ternyata dari sebuah balapan dan permusuhan, bisa buat seseorang saling suka ya.”
Rio: “Betul itu”
Ijal: “Untuk mengenang malam ini, kita namakan tempat ini ‘Racing Love’. Karena di tempat ini kita biasa balapan dan salah satu dari kita semua menemukan cinta”
Anak-anak: “Setujuuu......”
Ikmal: “Thank’s ya semua udah banyak bantu”
Ijal dan Tharas: “Sama-sama sob!”

      Mereka pun merayakan malam itu dengan penuh gembira. Tak ada lagi permusuhan diantara mereka seperti dulu. Kini mereka menjadi sahabat. Ikmal dan Mita menjadi pasangan paling bahagia malam itu.